Unma » Home » Artikel » IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER AKHLAK MULIA

Selasa, 09 September 2015 - 13:27:31 WIB
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER AKHLAK MULIA
Oleh : fkip
Dibaca: 5154 kali

(Studi Deskriptif Kualitatif Pendidikan Karakter pada SMA/MA Berbasis Asrama)

 

Mamat Rahmadi

 

 

ABSTRACT

 

Character education tends to emphasize on knowledge but it is weak on attitude and its application. The phenomenon of students indicated free sex, drugs and cruel happened while they get good education at schools. Many schools have not succeded in managing character education yet. Islamic boarding schools which   integrate curriculum of national and local /manhaj tarbiyah  do emphasize on Islamic religion subjectsand  akhlakul karimah values to students.     This study is aimed to know and find out data about  implementation  of  akhlakul karimah character education  as a descriptive  study  of qualitative research. The study finds that the planning  program was formulated  in school vision and  mission,  developed integrated curriculum, and actualized in active learning process,   students’ extra activity, religious habit and leadership. Monitoring and evaluation conducted on whole activities continuously.   The success of implementation has been indicated by students’ attitude changes on such as disciplinary, obedience, learning achievement, and less violence. For making effective character education program should involve of parents community, togetherness and commitment.

 

Key words: character education, boarding schools, akhlakul karimah.

 


Latar Belakang

        Laporan hasil penelitian yang diungkap oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional tahun 2010 (Pikiran Rakyat, 11 Januari 2011) menyebutkan bahwa  lebih dari 50%  anak-anak perempuan usia 11-15 tahun di beberapa kota besar sudah tidak perawan lagi. Selain itu, laporan yang dirilis Kementerian  Informasi dan Komunikasi menyebutkan hasil survei terhadap 4.500 siswa SMP di 12 kota besar menunjukkan bahwa sebanyak 67,1%  siswa pernah berhubungan seks. Temuan penulis dalam observasi pendahuluan menemukan, antara lain: a) adanya sikap tidak jujur dalam ujian, mencontek, mencari atau mempercayai terhadap adanya bocoran kunci jawaban ujian, b) meningkatnya kasus kenakalan remaja dan perbuatan asusila, c) meningkatnya penggunaan bahasa kasar dan tidak santun, d) semakin berkurangnya siswa/remaja  yang  berada dalam pengajian tetapi minat dan  perhatian terhadap hiburan dan kegiatan hura-hura semakin meningkat.  Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan, gambaran semakin menjauhnya remaja dari moral yang baik dan menurunnya budi pekerti atau akhlak mulia.

           Kondisi demikian menguatkan kesan bahwa pendidikan moral atau pendidikan akhlak mulia selama ini kurang berhasil. Mungkin karena pendidikan lebih menekankan aspek pengetahuan dibandingkan aspek lainnya. Pendidikan Agama dan Pendidikan Moral Pancasila (PMP) belum mampu mentransformasikan nilai-nilai agama, moral  dan kepribadian yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia dan internalisasinya dalam kehidupan nyata masyarakat bangsa  (Ali, 2009:147). Hal ini  sejalan dengan pendapat Sri Judiani dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol.16, 2010 bahwa Pendidikan di Indonesia masih terfokus pada aspek-aspek kognitif atau akademik, sedangkan aspek softskills atau  non-akademik masih kurang mendapatkan perhatian.

Tujuan pendidikan sejatinya membekali peserta didik dan menjadikannya seorang yang beriman dan bertakwa selain memiliki kecerdasan.  Bahkan dalam Islam, menurut Ahmad Tafsir (2011: 45), tujuan pendidikan adalah menjadikan manusia yang lebih baik, orang yang berkepribadian muslim, manusia yang berakhlak mulia. Dengan demikian, melalui pendidikanlah akan terbentuk manusia yang cerdas intelektualnya sekaligus cerdas spiritualnya. Di sinilah letak pentingnya pendidikan karakter akhlak mulia dan implementasinya menjadi kunci bagi tercapainya tujuan pendidikan tersebut.

             Berdasarkan hal tersebut,  diperlukan strategi agar  pendidikan  karakter akhlak mulia terlaksana dalam praktik kehidupan nyata di sekolah dan lingkungan kehidupannya. Menilik sejarahnya, sekolah-sekolah Islam atau pesantren telah lebih dahulu mengembangkan pendidikan karakter akhlak mulia di lembaganya, misalnya; tentang sikap menghormati guru, patuh pada orang tua dan bertingkah lakunya sesuai ajaran Islam (Dhofier, 2011:127). Pendidikan pessantren telah menjadi pilihan bagi masyarakat Indonesia. Parker  (2008:1) mengemukakan bahwa :”In Indonesia, Islamic education has become an increasingly popular choice for Indonesian parents over the last decade or more.” Penyebabnya, karena pendidikan dalam lingkungan pesantren/ berbasis asrama tidak semata-mata memperkaya pengetahuan murid-murid tetapi juga meningkatkan moral, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral serta mengenal etika agama.    

            Beberapa keunggulan sekolah asrama diungkapkan oleh Depag (2008:3)  di antaranya: misi pendidikannya menekankan pada aspek moralitas dan pembinaan kepribadian, kultur kemandirian dan interaksi kemasyarakatan berlangsung dua puluh empat jam sehari, hubungan kyai dan santri bersifat kekeluargaan dan kharisma kyai sebagai panutan dan teladan. Hal serupa diungkapkan dalam  hasil survey  The Association of Boarding Schools (TABS) http://www. schools.com/about/advantag.html.

            Kurikulum yang dikembangkan sekolah berbasis asrama/pesantren mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan umum dengan materi keagamaan. Materi keagamaan mencakup materi aqidah, akhlak, Qur’an, hadits, dll. Sharma (2003:122) mengungkapkan suatu sistem pendidikan yang baik dan progresif seharusnya memasukkan isi (contents) yang berorientasi nilai (values) ke dalam kurikulumnya.

           Sekalipun keberhasilan pendidikan di sekolah berasrama/ pesantren dalam mendidik siswanya memiliki karakter yang baik banyak mendapatkan pengakuan masyarakat. Namun, masih ditemukan bahwa tidak semua sekolah berasrama/pesantren telah berhasil mengelolanya. Terdapat beberapa permasalahan belum maksimalnya implementasi pengelolaan pendidikan karakter akhlak mulia pada sekolah-sekolah berasrama.

Berdasarkan latar belakang  tersebut penelitian ini ingin menggali informasi lebih mendalam, mendeskripsikan dan menganalisis tentang “bagaimana sekolah-sekolah  berbasis asrama  mengimplementasikan  pendidikan karakter akhlak mulia?

 

Rumusan Masalah 

          Berdasarkan deskripsi permasalahan-permasalahan yang diungkapkan  di atas penulis mengajukan beberapa pertanyaan penelitian (researchquestions), yaitu:

1.    Bagaimanakah perencanaan implementasi pendidikan karakter akhlak mulia pada MA Husnul Khotimah Kuningan, SMA  Islam Terpadu Al Multazam Kuningan? 

2.    Bagaimanakah strategi implementasi pendidikan karakter akhlak mulia dilakukan di  sekolah tersebut?

3.    Bagaimanakah monitoring dan evaluasi implementasi pendidikan karakter akhlak mulia dilakukan?

4.    Bagaimanakah indikator keberhasilan implementasi pendidikan karakter akhlak mulia?

 

KAJIAN PUSTAKA

Pengelolaan Sekolah Berasrama

            Pengelolaan atau manajemen seringkali dipertukarkan dengan istilah administrasi. Heinz Weihrich (1993 : 4) menyatakan “management is the process of designing and maintaining an environment in which individuals, working together in groups, accomplish efficiently selected aims”. Sedangkan Engkoswara dan Aan Komariah (2010:85) menyatakan manajemen sebagai proses dengan menentukan langkah yang sistematis dan terpadu, menggunakan atau memberdayakan orang lain untuk mencapai tujuan. Sementara Lunenberg dan Irby (2006:182) melihat pengelolaan dalam konteks sekolah dilakukan oleh seorang kepala sekolah yang bertindak sebagai manajer. Hill dan McShane (2008:4) memodifikasi empat fungsi manajemen menjadi: 1) planning and strategizing, 2) organizing, 3) controlling, dan 4) leading and developing employess. Sedangkan  Satori dan Suryadi (2007:155) menyebutkan fungsi-fungsi administrasi pendidikan dalam enam macam, yaitu: merencanakan, mengorganisasikan, mengkomunikasikan, mengkoordinasikan, mengawasi, dan menilai.  Dapat disimpulkan bahwa pengelolaan merupakan proses yang berkaitan dengan kegiatan menggerakkan orang dan sumber daya lain  untuk bekerja sama mencapai tujuan yang ditetapkan melalui kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan.

           Hal yang paling pokok dalam pengelolaan pendidikan di sekolah berasrama adalah efektivitas pengelolaan terhadap komponen-komponen kinerja dan layanan sekolah itu sendiri. Menurut Mulyasa (2007: 39), komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik, yaitu:

(1)  Pengelolaan kurikulum dan pembelajaran; (2) Pengelolaan ketenagaan; (3) Pengelolaan kesiswaan/ peserta didik; (4) Pengelolaan keuangan dan pembiyaan; (5) Pengelolaan sarana dan prasarana; (6) Pengelolaan administrasi; (7) Pengelolaan keorganisasian; (8) Pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat; dan (9) Pengelolaan lingkungan, iklim dan budaya sekolah.

          Karena itu, kepala sekolah berperan mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang ada di sekolah dan melakukan fungsi-fungsi kepemimpinan. Lunenberg dan Irby (2006:182) menyatakan: principals combine and coordinate various kinds of resources by carrying out four basic leadership functions: planning, organizing, leading, and monitoring.    

          Fungsi-fungsi pengelolaan selengkap-nya adalah:  Merencanakan (planning); merencanakan adalah kegiatan persiapan untuk tindakan-tindakan apa yang akan dilaksanakan. Menurut Benowitz (2001:47) “a plan is a blueprint for goal achievement that specifies the necessary resource allocations, schedules, tasks, and other actions.” Jadi, sebuah perencanaan merupakan cetak biru pencapaian tujuan/cita-cita. Merencanakan adalah kegiatan yang membiarkan manajer untuk menentukan apa yang mereka inginkan dan bagaimana akan mencapainya. Langkah perencanaan menentukan apa yang seharusnya dikerjakan, oleh siapa, kemana, kapan, dan bagaimana. Bagi manajer, sebuah perencanaan membantu mengelola sumber-sumber daya dan aktivitas secara efisien dan efektif untuk mencapai cita-cita. Mengorganisasikan (organizing); mengorganisasikan  artinya manajer mengkoordinasikan manusia dan sumber daya materil dalam organisasi, membangun struktur tim dan sumber daya pendukungnya. Hills dan McShane (2008:5): “Organizing refers to the process of deciding who within an organization will perform what tasks, where decisions will be made, who reports to whom, and how different parts of the organization will coordinate their activities to pursue a common goal.” Dapat dikatakan juga bahwa pengorganisasian berkaitan dengan langkah menata struktur organisasi, mengisinya dengan sumber daya yang dimiliki dan mengkordinasikan tugasnya sehingga dapat mencapai tujuan organisasi. Memimpin (leading); menurut Engkoswara dan Komariah (2010:95) memimpin menekankan pada upaya mengarahkan dan memotivasi personil dapat melaksanakan tugas pokoknya dengan baik.  Menurut Lunenberg dan Irby (2005: 184) fungsi ini juga mencakup  facilitating (memfasilitasi), collaborating (mengkolaborasikan), dan actuating (menjalankan atau menggerakkan).

Mengawasi (controlling) ; Menurut Satori dan Suryadi (2007:158) “pengawasan adalah fungsi administratif untuk memastikan bahwa apa yang dikerjakan sesuai dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya.”  Melalui fungsi pengawasan indikator keberhasilan organisasi/sekolah dalam menjalankan programnya dapat diketahui. Hal ini dapat dilihat dari kesesuaian proses dengan apa yang direncanakan, kesesuaian dalam pencapaian tujuan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya yang efektif dan efisien melalui suatu mekanisme pengawasan yang baik. Bentuk kegiatan pengawasan dapat berupa pemantau/monitoring dan evaluasi.

            Sekolah berbasis asrama adalah sekolah yang memfasilitasi para peserta didiknya tinggal di dalam asrama  yang berada di lingkungan sekolahnya. Sekolah model demikian identik dengan pesantren. Perkataan pesantren berasal dari kata santri, dengan awal pe dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri.  Kata santri berasal dari bahasa Tamil  yang berarti guru mengaji, atau dari kata shastri dalam bahasa India yang berarti buku-buku suci (Dhofier, 2011:41). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2008:1064) pesantren diartikan sebagai asrama tempat santri atau murid belajar mengaji, dsb.; pondok atau madrasah. Elemen-elemen yang biasa terdapat dalam pesantren, menurut Dhofier (2011: 80) meliputi: 1) pondok, 2) masjid, 3) santri, 4) pengajaran kitab, dan 5) kyai. Klasifikasi pesantren diukur menurut banyaknya jumlah murid yang ada.

           Berdasarkan deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa implementasi pengelolaan sekolah berasrama/ pesantren adalah pelaksanaan tindakan penatakelolaan sekolah berasrama dengan melibatkan langkah-langkah: (1) merencanakan, yang meliputi penentuan visi, misi dan tujuan sekolah baik jangka panjang atau jangka pendek dengan strategi yang disesuaikan dengan peluang pencapaianya, (2) mengorganisasikan sekolah dalam bentuk menata struktur dan sumber daya yang dilibatkan di dalamnya, menempatkan semua sumber daya tersebut dalam kendali organisasi, (3) memimpin adalah kegiatan mengajak, mempengaruhi dan menggerakkan orang dan organisasi menuju pencapaian tujuan, mengarahkan dan mendorong orang bekerja, dan (4) mengawasi dan mengevaluasi kinerjanya yaitu kegiatan mengumpulkan informasi  untuk melihat apa yang terjadi sesuai dengan semestinya, sebuah pelaksanaan program berjalan sesuai dengan rencana yang dibuat melalui kegiatan monitoring dan evaluasi.

 

Pendidikan Karakter Akhlak Mulia

           Karakter atau character berasal dari bahasa Perancis, “charactere”, dan dari bahasa Latin character yang berarti “mark, distinctive quality”. Pengertian karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2008:623)  adalah “tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak  atau budi pekerti  yang membedakan seseorang dari yang lain.

           Secara etimologis, pengertian karakter sebagai  watak, tabiat, akhlak atau budi pekerti sebagai sebuah kepribadian tersebut, menurut Koesoema (2007 : 80) merupakan “ciri atau karakteristik atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan bawaan sejak lahir.”  Dengan demikian, karakter melekat dalam dirinya dan menjadi ciri dari penampilan setiap orang yang membedakannya dari orang lain.

            Sedangkan pengertian akhlak menurut Sauri (2011:5)  dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab al-akhlaaqu, bentuk jamak dari kata al-khuluqu atau khuluqun yang berarti tabiat, kelakuan, perangai, tingkah laku atau kebiasaan. Pengertian akhlak menurut istilah ialah sifat yang tertanam di dalam diri yang muncul dalam bentuk perbuatan tanpa merasa dipaksa, tanpa memerlukan pemikiran, prilaku yang muncul secara spontan.

           Dalam ajaran Islam, standar normatif suatu perbuatan  bersumber pada al-Quran dan hadits. Apapun yang diperintahkan Allah dalam al-Quran dan Rasulullah dalam Sunnah/Hadits pasti bernilai baik untuk dilakukan, sebaliknya yang dilarang oleh al-Quran dan Sunnah pasti bernilai baik untuk ditinggalkan atau buruk jika dilakukan. Akhlak menyentuh berbagai aspek kehidupan, menyentuh hubungan bersifat vertikal kepada Allah dan horizontal sesama manusia. Maka ruang lingkup akhlak mencakup akhlak dalam kehidupan perorangan, berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara bahkan akhlak dalam kehidupan beragama. Lickona (1991: 51) bahwa :” Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior.”  Karena akhlak merupakan bagian dari dua  elemen kunci ajaran Islam, yaitu aqidah dan syariah, maka akhlak mulia muncul sebagai buah dari proses penerapan syariah berupa ibadah dan muamalah yang dilandasi oleh keyakinan atau aqidah yang kuat. Seorang muslim yang memiliki aqidah/iman yang kuat pasti akan berprilaku sehari-harinya dengan didasari keimanannya tersebut.

          Mengenai pendidikan karakter, Lickona. (1991:2) menyatakan :” Character education is the deliberate effort to develop good character based on core virtues that are good for the individual and good for society.” Sedangkan program pendidikan sekolah berasrama atau pesantren merumuskan tujuan pendidikan Islam sebagai inti dalam kurikulumnya.  Hasil yang diharapkan dengan kurikulum demikian menghasilkan siswa yang mampu menunjukkan karakter akhlak mulia seperti dicontohkan nabi Muhammad saw. “  In the case of a Muslim child,  good character means teaching students to follow the examples of Prophet Muhammad SAW.” (Salahuddin, 2009 :222). Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan Islam. Menurut Ahmad Tafsir (2011:51)  tujuan umum  pendidikan Islam adalah “manusia muslim yang sempurna atau manusia yang takwa, atau manusia beriman, atau manusia yang beribadah kepada Allah.” Maka akhlak sangat penting sebagai bagian inti pendidikan. Menurut Marzuki (2012:2) :” Pendidikan akhlak (karakter) adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapai akhlak yang karimah (karakter mulia) adalah tujuan sebenaarnya dari pendidikan Islam. “

Strategi Implementasi Pendidikan Karakter Akhlak Mulia

           Strategi yang dapat dilakukan adalah melalui: proses pembelajaran, pembinaan siswa dan pengelolaan sekolah. Proses pembelajaran berlangsung dengan pendekatan proses belajar aktif yang berpusat pada anak yang dilakukan  secara efektif melalui kegiatan di dalam kelas, di sekolah dan masyarakat.  Brophy dalam Lunenberg (2005:109) ada  dua belas prinsip pengajaran efektif.

            Pendidikan karakter akhlak mulia dalam pembelajaran berjalan efektif dengan melakukan persiapan yang baik. Peran guru sangat penting dalam membuat suasana belajar di dalam kelas terbangun melalui pengintegrasian antara pengetahuan dengan sikap dan perbuatan dalam sehari-hari. Proses pembelajaran yang melibatkan langkah-langkah eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning atau Cooperative Learning sebagai bentuk intervensi guru terhadap peserta didik agar menjadi siswa lulusan yang berkarakter dan berkualitas. Untuk menguatkan pengetahuan yang telah diperoleh, diberikan kesempatan pembiasaan dalam bentuk pemodelan oleh guru dan lingkungan.

Dalam implementasi pengelolan sekolah, pendidikan karakter akhlak mulia di dalamnya juga mencakup suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengawasi dalam upaya untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan.  seperti ditegaskan Kementerian Pendidikan Nasional dalam Buku Pedoman Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (2010), bahwa:

           Sebagai suatu sistem pendidikan, maka dalam pendidikan karakter juga terdiri dari unsur-unsur pendidikan yang selanjutnya akan dikelola melalui bidang yang  merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan. Unsur-unsur pendidikan karakter yang akan direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan tersebut antara lain meliputi: (1) nilai-nilai karakter kompetensi lulusan; (2) muatan kurikulum nilai-nilai karakter; (3) nilai-nilai karakter dalam pembelajaran; (4) nilai-nilai karakter pendidik dan tenaga kependidikan; dan (5) nilai-nilai karakter pembinaan peserta didik.

           Melalui kegiatan pembinaan, kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar jam  mata pelajaran tatap muka. Kegiatan dilaksanakan di dalam dan/atau di luar lingkungan sekolah. Tujuannya untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan dan menginternalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan agama (Islam) serta norma soial untuk membentuk insan yang seutuhnya. Pembinaan kesiswaan  untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwenang di sekolah.

 

Indikator  Keberhasilan Implementasi Pengelolaan Sekolah

           Indikator adalah sesuatu yang dapat memberikan petunjuk atau  keterangan. Menurut State Consortium on Education Leadership (Sanders dan Keanan, 2008) disebutkan: “indicators are observable and measurable statements about what leaders do to ensure effective teaching and successful learning by every student.” Dengan demikian indikator  mengidentifikasi apa yang pemimpin pendidikan lakukan untuk mempromosikan pengajaran yang berkualitas dan pembelajaran setiap siswa. Mereka mendeskripsikan bagaimana pemimpin melakukan pendekatan kerja dengan cara yang dapat diamati dan terukur. Sementara Kemdiknas (2010) dalam Pedoman Sekolah untuk Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa merumuskan  pernyataan kualitatif yang menggambarkan pencapaian suatu indikator atau nilai pendidikan karakter. Kesimpulan tersebut didasarkan atas hasil pengamatan, catatan anekdotal, tugas, dan laporan.

Adapun pernyataan kualitatif  dimaksud adalah:

BT: Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator).

MT: Mulai Terlihat (apabila peserta didk sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetap belum konsisten.

MB: Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten).

MK: Membudaya (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten).

 

METODOLOGI PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif berupa studi deskriptif. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purposive dan snowballsampling. Ruang lingkup subjek penelitian adalah: 1) Mudir, pimpinan pondok, 2) kepala sekolah, 3) pengurus yayasan, 4) guru-guru/ust./usth., 5) pengawas sekolah, 6) perwakilan orang tua siswa, dan 7) siswa/santri. Instrumen penelitiannya adalah peneliti sendiri yang dilengkapi dengan kelengkapan seperti kisi-kisi penelitian, pedoman wawancara, pedoman observasi, recorder, kamera, buku catatan. Data yang diperoleh dan terekam tersebut kemudian dicatat dalam bentuk catatan lapangan dan dianalisis. Dua  langkah utama analisis dilakukan, yaitu describing, classifying dan connecting. Teknik analisis data  meliputi  data collection, data reduction, data display, dan drawing conclusion/ verifications. Untuk menjamin validitas dan reliabilitas data dilakukan triangulasi, membercheck, dan prolonge do oservation.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

           Pada dua situs penelitian yaitu SMA Al Multazam dan MA Husnul Khotimah Kuningan, perencanaan implementasi pendidikan karakter akhlak mulia  ditemukan dalam bentuk: a) visi dan misi serta tujuan yang dibuat oleh sekolah, b) adanya dokumen Rencana Strategis atau Renstra yang memuat kebijakan tentang pendidikan karakter akhlak mulia, c) pengintegrasian kurikulum umum dengan kurikulum khas pesantren/keagamaan. Dengan dibuatnya perencanaan menggambarkan tanggungjawab pengelola sekolah terhadap arah pencapaian tujuan. Hal ini sejalan dengan pendapat Saud dan Makmun (2007:42) bahwa proses perencanaan sangat penting untuk menentukan kejelasan arah proses pendidikan selanjutnya. Rumusan misi yang menggambarkan tentang fokus menuju arah mana proses perencanaan diarahkan (Razik dan Swanson, 1995:355). Hal ini sejalan dengan pendapat Benowitz (2001:47) bahwa menyusun perencanaan berarti menyiapkan apa yang ingin diraih di masa depan. Temuan penelitian ini memperkuat hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Sri Judiani (2010) dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan vol. 16, bahwa “guru dan sekolah perlu mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang dikembangkan dalam pendidikan karakter ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Silabus, dan Rencana Program Pembelajaran (RPP).” Juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lee (2009) mengenai The planning, implementation and evaluation of character-based school culture (CSBC) project in Taiwan.

           Mengenai perumusan kebijakan program pendidikan karakter diperoleh data : a) dilakukan melalui musyawarah dalam bentuk rapat kerja, rapat pimpinan, lokakarya, b) tim pengembang kurikulum sebagai penanggung jawab penyusunan kurikulum, c) rencana strategis sebagai pedoman. Kebijakan dalam merumuskan kurikulum dibuat dengan melibatkan tim yang telah dibentuk yang merepresentasikan unsur-unsur terkait di dalam lembaga pendidikan/pondok pesantren. Temuan ini sejalan dengan hasil  penelitian yang telah  dilakukan oleh Sarafidou  dan Chatziioannidis (2013) dalam International Journal of Educational Management vol. 27 bahwa ada hubungan positif antara partisipasi dalam keputusan menyangkut isu guru dengan tingkat kepuasan diri, “our research revealed a positive association between participation in decision concerning teacher issues and level of self-efficacy.” Hasil perumusan program oleh tim disebarluaskan kepada seluruh pemangku kepentingan sekolah termasuk orang tua siswa. Temuan penelitian ini juga memperkuat hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutjipto (2011) dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan vol. 17,  bahwa sosialisasi program terhadap para pemangku kepentingan merupakan kegiatan yang amat diperlukan. Selengkapnya dikemukakan dalam hasil studi tersebut bahwa “sosialisasi dan pelatihan terhadap para pemangku kepentingan dengan materi …. konsepsi pendidikan karakter, tata cara penyusunan KTSP yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter…. amat diperlukan oleh satuan pendidikan rintisan.”

Salah satu keputusan perumusan kebijakan adalah menetapkan kurikulum yang mengintegrasikan antara kurikulum nasional dengan kurikulum khas pesantren. Kurikulum ini memuat nilai-nilai agama Islam pada sekolah dengan karakter khas seperti sekolah berasrama. Hal ini sejalan dengan pendapat Sharma (2003) bahwa “a good and progressive system of education should incorporate value oriented contents in the curriculum.” Sekolah berbasis asrama memiliki ciri sebagai sekolah modern yang memiliki kurikulum khas. Seperti dikatakan Lickona (2001:162) bahwa kurikulum sebagai urusan utama sekolah (the chief business of schooling) dan menjadikan kurikulum  sebagai kendaraan untuk mengembangkan nilai-nilai dan kesadaran etika “that curriculum as a vehicle for developing values and ethical awareness.” Hal senada dikemukakan oleh Sharma (2003 :123).

           Kurikulum pada kedua sekolah penelitian menunjukkan integrasi antara kurikulum pendidikan umum dan kurikulum khas pesantren. Kurikulum pendidikan umum mengacu pada standar yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama. Berdasarkan temuan pula bahwa pengembangan kurikulum yang berlaku di kedua sekolah juga mengakomodasi masukan dari orang tua siswa. Masukan dari orang tua siswa dan siswa diperoleh di antaranya melalui angket yang diisi para orang tua saat mendaftarkan anaknya ke sekolah-sekolah ini. Hal ini sejalan dengan pendapat Elkind dan Sweet (2004) kurikulum yang diajarkan seharusnya memberikan kesempatan siswa terlibat. Keterlibatan siswa dalam pengembangan kurikulum melalui ruang aspirasi atau membangun komunikasi dua arah dapat mendorong motivasi dan tanggung jawab mereka. Hal ini sesuai dengan temuan Caroline Koh (2012) bahwa keterlibatan siswa dapat merasa memiliki dan dapat meningkatkan motivasi belajar. Sejalan dengan itu, Lickona (1991:53)  menekankan pentingnya dua  komponen karakter yang baik, yaitu :1) moral knowing ( mengetahui kebaikan), 2) moral feeling, (dan 3) moral action untuk diajarkan kepada siswa. Karakter yang baik sebagaimana dikemukakan oleh Lickona tersebut memiliki kesamaan dengan karakter akhlak mulia dalam agama Islam. Menurut Al Ghazali dalam Salahuddin (2009) bahwa; ”good character means teaching students to follow the examples of Prophet Muhammad saw.  Akhlak mulia tidak dapat dilepaskan dari aqidah dan syariah. Satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Karena itu, sebagaimana dikemukakan oleh Marzuki (2012, 3) bahwa: “Kedua  bagian ini tidak bisa dipisahkan, tetapi harus menjadi satu kesatuan yang utuh yang saling mempengaruhi.”

 

 

 

Implementasi Pendidikan Karakter Akhlak Mulia

          Secara umum, penelitian ini menemukan data dari kedua situs bahwa implementasi  pendidikan karakter dalam proses pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah: 1) menyusun RPP yang memuat/mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan, dan, 2) melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas atau di luar kelas. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Sri Judiani (2010) bahwa pengembangan nilai-nilai yang sudah ada dalam silabus dicantumkan dalam RPP.

           Sedangkan proses pembelajaran yang berlangsung memperlihatkan pembelajaran aktif. Model pembelajaran tersebut dinamakan cooperative learning. Menurut Johnson, Johnson (Nucci, 2008) cooperative learning adalah: the instructional use of small groups so that students work together to maximize their own and each other’s learning.” Hubungan guru-murid (the teacher-student relationship) menurut Lickona adalah fondasi dari pengajaran yang efektif. Proses pembelajaran yang diamati di atas menunjukkan adanya kegiatan pembelajaran akademik yang bersamaan terintegrasi dengan penanaman nilai karakter yang dilakukan guru di kelas. Dalam jurnal Journal of Research in Character Education Jacques Benninga dan Marvin Berkowitz, dkk. (2003) melaporkan hasil penelitiannya tentang adanya hubungan antara pendidikan karakter dan prestasi akademik. Sekolah-sekolah yang mengimplementasikan pendidikan karakter cenderung memiliki skor akademik lebih tinggi. ”those schools addressing the charatcer education of their students in a serious, well-planned manner tended also to have higher academic achievement scores.

          Kegiatan rutin untuk membiasakan para siswa melakukan suatu ektivitas ibadah sehingga melekat dalam dirinya adalah bentuk proses pembelajaran disiplin. Menghadirkan simbol-simbol, acara-acara, tradisi-tradisi yang hidup dalam lingkungan sekolah berasrama/ pesantren atau membangun rasa bangga, persatuan dan kesatuan korsa pesantren, visi dan misi, nilai dan norma-norma sekolah berasrama mampu mengantarkan para siswa dalam sikap disiplin yang kuat. Ini sejalan dengan penelitian Westhuizen, Oosthuizen dan Wolhuter (2008) yang meneliti tentang The Relationship Between an Effective Organizational Culture and Student Discipline in a Boarding School dan menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara budaya organisasi dengan disiplin siswa (a relationship that exists between organizational culture and student discipline), disiplin sisswa efektif menentukan keefektifan budaya organisasi (effective student discipline determines the effectiveness of the organizational culture), dan budaya organisasi efektif menentukan keefektifan disiplin siswa (an effective organizational culture determines the effectiveness of student discipline). Hal ini dapat terjadi seperti yang disebut oleh Lickona (1991) karena  kebiasaan berbuat baik perlu didorong oleh adanya aspek emosional yaitu rasa ingin b