Unma » Home » Artikel » JUDUL PENELITIAN: PENERAPAN LATIHAN RELAKSASI LATIHAN KONSENTRASI DAN LAITIHAN VISUALISASI

Selasa, 09 September 2015 - 13:27:31 WIB
JUDUL PENELITIAN: PENERAPAN LATIHAN RELAKSASI LATIHAN KONSENTRASI DAN LAITIHAN VISUALISASI
Oleh : fkip
Dibaca: 1756 kali

PENERAPAN LATIHAN RELAKSASI LATIHAN KONSENTRASI DAN LAITIHAN VISUALISASI TERHADAP PENINGKATAN MENTAL ATLET SEPAK BOLA UNIVERSITAS MAJALENGKA

oleh Indra Adi Budiman

ABSTRAK

Penerapan Latihan Relaksasi, Latihan Konsentrasi dan Latihan Visualisasi terhadap Peningkatan Mental Atlet Sepak Bola Universitas Majalengka.

Penelitian ini mengkaji penerapan latihan relaksasi, latihan konsentrasi dan latihan visualisasi terhadap peningkatan mental atlet Sepak Bola Universitas Majalengka.Metode penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan teknik observasi dan kuisoner.Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan olahraga dengan subjek penelitian adalah atlet Sepak Bola Universitas Majalengka yang berjumlah 20 orang. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif .

Hasil penelitian kualitatif menunjukkan persentase keaktifan atlet mulai dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan secara signifikan. Hal ini ditandai semakin meningkatnya persentase atlet dari siklus I sebanyak 96,6% meningkat menjadi 100% pada siklus II. Antusius atlet dalam proses pelatihan mental semakin baik. Hal ini ditandai semakin meningkatnya persentase atlet dari siklus I sebanyak 97,7% meningkat menjadi 100% pada siklus II.

 

 


PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

            Perkembangan bidang olahraga semakin cepat sejalan dengan perkembangan masyarakat dan harus didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat memberikan pengaruh yang sangat besar khususnya dalam meningkatkan prestasi optimal.Hal ini dapat dibuktikan dengan semakin canggihnya alat olahraga yang digunakan baik dalam latihan maupun dalam dan pengukuran kemampuan atlet.

            Prestasi olahraga saat ini merupakan hasil kerja keras seluruh lapisan masyarakatyang berkompoten pada pembinaan olahraga, serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhubungan dengan aktifitas atlet di manfaatkan dengan baik. Prestasi olahraga ditentukan bukan saja oleh unsur fisik, teknik dan strategi, akan tetapi juga aspek mental. Untuk memperoleh prestasi olahraga yang tinggi, maka seluruh aspek usaha membina atau mencetak atlet agar berprestasi optimal dan menjadi juara maka disamping berbagai latihan, diperlukan program-program latihan mental baik bersifat umum maupun bersifat khusus, disesuaikan berbagai kondisi atlet.

Mental image dewasa ini banyak dipraktekan oleh pelatih dan merupakan bagian penting untuk mempercepat proses berlatih dan menumbuhkan semangat dalam latihan dan bertanding. Namun, atlet yang dilatih dalam khayalan-khayalan mental mengenai suatu gerakan  atau apa yang harus dilakukan dalam suatu situasi tertentu masih kurang memadai.

Proses latihan mental dalam olahraga pada umumnya dan khususnya pada cabang olahraga sepakbola harus melalui proses yang panjang. Latihan mental menurut ketentuan, tekat serta ditandai oleh motivasi untuk berprestasi maksimal. Program latihan mental yang dilaksanakan merupakan proses yang dilakukan berulang-ulang dengan dosis dan intensitas, kian hari semakin meningkat, yang pada akhirnya dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan tahan mental, agar hasil latihan atau belajar dapat memberi makna oleh karena itu, acuan suatu program harus disusun secara cermat.

            Berdasarkan pengamatan tentang prestasi sepak bola di Jawa Barat  yang menurun akhir-akhir bahwa salah satu penyebabnya masih labilnya mental bertanding atlet itu disebabkan kurangnya latihan mental yang dilakukan oleh pelatih. maka perlu dikaji lebih mendalam aspek psikologis dalam latihan, khususnya latihan mental. Faktor mental harus dipersiapkan dengan baik, sehingga kemampuan jiwanya baik akal, kemauan dan perasaannya siap menghadapi tugas-tugas dan menghadapi segala kemungkinan.

            Oleh karena sifat holistik dari ilmu olahraga dan keterbatasan yang dimiliki penulis, maka sebagai objek penelitian ditujukan pada  atlet atau pemain sepakbola di Jawa Barat. Di Jawa Barat  tempat berkumpulnya pemain dan tempat pemusatan latihan khususnya di kota Majalengka, akan tetapi prestasi dibidang sepakbola secara khususnya masih kurang.  Untuk itu perlu diadakan pendekatan ilmiah melalui Psikologi Olahraga. Adapun Judul penelitian ini adalah: “Penerapan Latihan Relaksasi, Latihan Konsentrasi dan Latihan Visualisasi terhadap Peningkatan Mental Atlet Sepak Bola Universitas Majalengka.

 

Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan pokok pikiran yang telah dikemukakan dalam latar belakang masalah maka timbul permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.   Apakah penerapan latihan mental relaksasi dapat meningkatkan mental atlet  sepak bola Universitas Majalengka?

2.   Apakah penerapan latihan mental konsentrasi dapat meningkatkan mental atlet  sepak bola Universitas Majalengka?

3.   Apakah penerapan latihan mental visualisasi dapat meningkatkan mental atlet sepak bola Universitas Majalengka?

 

Tujuan Penelitian

1.   Untuk mengetahui penerapan latihan mental relaksasi dapat meningkatkan mental atlet sepak bola Universitas Majalengka.

2.   Untuk mengetahui penerapan latihan mental konsentrasi dapat meningkatkan mental atlet sepak bola Universitas Majalengka.

3.   Untuk mengetahui penerapan  latihan mental visualisasi dapat meningkatkan mental atlet sepak bola Universitas Majalengka.

 

Ruang Lingkup

1.   Relaksasi adalah teknik latihan mental untuk mengurangi ketegangan melalui peregangan dan pelemasan otot-otot sehingga tercipta keadaan yang lebih tenang.

2.   Konsentrasi adalah teknik latihan mental suatu keadaan di mana kesadaran seseorang tertuju kepada suatu objek tertentu dalam waktu tertentu.

3.   Visualisasi adalah teknik latihan mental dalam alam pikiran atlet dimana atlet membuat gerakan-gerakan yang benar-benar melalui imajinasi atau melihat gambaran diri di dalam pikiran.

 

TINJAUAN PUSTAKA

1.   Psikologi Olahraga

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Perilaku manusia ada yang disadari namun adapula yang tidak disadari dan terhadap perilaku yang ditampilkan oleh seseorang dapat bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri..ilmu psikologi diterapkan dalam bidang olahraga yang kemudian dikenal psikologi olahraga. Sedangkan psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam situasi olahraga. Cox R.H 1996 (dalam Gunarsa 2004:1) mengemukakan bahwa “Psikologi olahraga pada hakikatnya adalah psikologi yang diterapkan dalam bidang olahraga, meliputi faktor-faktor yang mempengaruhi secara langsung terhadap atlet dan faktor diluar atlet yang dapat mempengaruhi penampilan (ferformance).”

Penerapan psikologi dalam bidang olahraga adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang dimiliki seseorang dapat dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Tohar (1992 : 116) mengatakan bahwa “ mental seseorang pemain tergantung pada watak dan filsafah yang semuanya itu dipengaruhi oleh filsafah agama, kehidupan pendidikan, filsafah negara dan faktor-faktor luar meliputi; iklim, serta lingkungan hidup.”

Weinberg dan gould (dalam Satiadarma, 2000:9) mengemukakan bahwa psikologi olahraga secara spesifik diarahkan untuk :

1.   Untuk membantu para professional dalam membantu atlet bintang mencapai prestasi puncak.

2.   Membantu anak penderita dan orang tua untuk bisa hidup lebih bugar.

3.   Meneliti faktor psikologis dalam kegiatan latihan

4.   Memanfaatkan kegiatan latihan sebagai alat terapi misalnya untuk terapi depresi.

Peranan psikologi turut memberikan andil dalam usaha-usaha seseorang atlet untuk mencapai prestasi maksimal, olehnya itu ada beberapa aspek psikologi yang perlu diterapkan dalam membina atau melatih mental antara lain,  latihan relaksasi, latihan konsentrasi dan latihan visualisasi, ambisi untuk berprestasi serta aspek-aspek psikoligi lainnya perlu dipelajari atau dihayati oleh Pembina dan pelatih dalam usahanya mendidik dan melatih atlet dalam meraih prestasi tinggi. Menurut Harsono (1988: 101) mengatakan “Betapa sempurnanya perkembangan fisik, teknik, dan taktik atlet, apabila mentalnya tidak turut berkembang, maka prestasi tinggi tidak mungkin akan dapat tercapai.”

 

2.   Latihan Mental

Bagaimana pun sempurnanya perkembangan fisik, teknik, dan taktik atlet, apabila mentalnya tidak turut berkembang, prestasi tinggi tidak mungkin akan dapat dicapai. Latihan mental menurut Unestahl 1986 yang terjemahkan Yuanita Nasution (1996:129) adalah latihan yang lebih menekankan pada perkembangan kedewasaan (maturitas) atlet serta perkembangan emosional dan imfulsif, misalnya semangat bertanding, sikap pantang menyerah, keseimbangan emosi meskipun berada dalam situasi stress, sportivitas, percaya diri, kejujuran dan sebagainya. Psychological training adalah latihan guna mempertinggi efesiensi mental, terutama apabila atlet berada dalam situasi stress yang kompleks

Pengaruh faktor psikologis pada atlet akan tampak dengan jelas pada saat atlet tersebut bertanding. Gunarsa (1988:14) mendefinisikan beberapa ungkapan menarik mengenai pentingnya faktor psikis (mental) atau disebut dengan faktornon teknis:

1.   James E. Loehr (1982) psikologis olahraga mengatakan: “ At least 50 percent of the process of playing well is the result of mental and psychological factor”’ yang diterjamahkan secara sederhana: sekurang-kurangnya ada 50 persen dari proses dalam bermain adalah hasil dari faktor mental.” Jelas disini ditekankan pentingnya faktor mental-psikologis.

2.   Bob Petti, bintang bola basket pada waktu yang lalu: “The mental aspect of basketball is 50 percent of the battle”, yang diterjemahkan secara bebas bahwa aspek mental pada basket ball 50 persen pertempuran dan pergulatan.

3.   Seorang pegolf professional, Rex Caldwell, mengemukakan rahasia keberhasilannya dalam pertandingan-pertandingannya: My mental attitude is verystrong. Every tim I walk up to a shot I feel like it´s going to go where I´m aiming it.”  Yang diterjemahkan secara bebas bahwa prilaku mental saya sangat kuat menembak dimana yang saya inginkan (menyarangkan).

4.   Rick Mc Kinney (1985), pemanah nasional Amerika, menyatakan sekalipun peralatan baik dan canggih, namun masih tergantung pada kekuatan mental dari pribadi yang menggunakannya.

Berdasarkan keempat faktor psikologis masing-masing memberikan sumbangan terhadap atlet, misalnya, 50 persen penampilannya ditentukan oleh konsentrasi, 15 persen intelegensia, 15 persen ditentukan oleh aspek agresivitas, 20 persen ditentukan oleh kepercayaan diri. Faktor psikologis seolah-olah memiliki atribut negatif bagi diri seorang atlet.Padahal banyak penelitian telah membuktikan bahwa psikologis sering menjadi faktor yang sangat menentukan bagi seorang atlet untuk meraih kemenangan.Setiadarma (2000) mengemukakan bahwa pernyataan pengurus, pelatih dan komentator olahraga mengenai kekalahan atletnya disebabkan oleh faktor psikologis. Namun, pernyataan mereka  bahwa kemenangan atlet disebabkan oleh faktor psikologis dalam hal ini mental yang labil, bagaimana dengan kemenangan lawan yang merupakan bukti keunggulan dalam faktor psikologis.

 

a.   Latihan Relaksasi

Relaksasi adalah suatu keadaan  dimana tidak terdapat ketegangan baik secara fisik, emosi maupun mental (Gunarsa:2004). Apabila atlet mengalami derajat ketegangan, kecemasan dan kegairahan yang terlalu tinggi, maka ia akan mengalami kesulitan untuk mencapai penampilan yang optimal. Bila atlet tersebut diterapkan strategi yang dapat meningkatkan kegairahan/kesiagaan, maka ia akan semakin tegang dan cemas. Ketegangan dan kecemasan yang berlebihan menurunkan penampilan. Untuk mengatasi situasi ini perlu dilakukan pembalikan proses yang terjadi dengan mengurangi ketegangan dan kecemasan, melalui prosedur relaksasi.

Garfiel, 1984 (dalam Setiadarma 2004: 119) mengatakan bahwa “ Proses latihan mental bagi seorang atlet untuk mencapai prestasi puncak dengan menitik beratkan pada perlunya atlet memahami tujuan yang hendak dicapai oleh dirinya serta misi yang diemban.” Untuk dapat menampilkan suatu gerakan dengan baik di dalam latihan apalagi dalam suatu pertandingan penting.Diperlukan keadaan fisik dan mental yang rileks, bebas dari ketegangan yang menggangu. Dengan otot-otot yang rileks dapat ditanpilkan gerakan-gerakan yang benar serta akan didapatkan kelentukan dan kecepatan maksimal dengan akurasi yang baik. dalam keadaan demikian maka pikiran akan menjadi lancar sehingga strategi bertanding akan dapat diterapkan dengan tepat.

Latihan relaksasi akan membantu atlet untuk mencapai keadaan relaks tersebut. Salah satu cara latihan yang sederhana adalah relaksasi progresif yang dirancang pertama kali oleh Edmond Jacobson, dimana bagian tubuh dilatih secara bertahap untuk relaks dan dapat membedakan antara keadaan relaks dan tegang (Bird dan Cripe:1986).

Untuk mengatasi atlet tersebut  perlu dilakukan latihan relaksasi. Model relaksasi ada empat macam yaitu: relaksasi progresif (progressive relaxation), latihan otogenik (autogenic training), meditasi transedental (transcendental meditation) dan biofidbek (biofeed-back). Model-model ini mengakibatkan menurunnya detak jantung, pengurangan pengeluaran keringat, dan berkurangnya ketegangan otot.

 

b.   Latihan Konsentarsi

Setelah latihan relaksasi dikuasai atlet dapat memulai latihan konsentrasi. Konsentrasi merupakan suatu proses yang mengarahkan kesadaran akan informasi menjadi susuatu yang berfungsi pada pengindaraan. Dengan demikian, suatu kemampuan untuk memusatkan perhatian akan muncul apabila atlet mampu mencurahkan atau menyeleksi perhatian hanya pada rangsang-rangsang tertentu saja yang ada pada kepentingan yang relevan terhadap penampilannya sebagai hal yang mendominasi fokus dan perhatian. Gunarsa (2004:89) mengatakan bahwa “Konsentrasi merupakan kemampuan yang sangat penting agar perhatian menjadi terpusat terhadap permainan dengan berbagai liku-likunya, serta terhadap taktik atau strategi untuk bermain sebaik-baiknya.” Hal ini ditandai sepenuhnya oleh perhatian atlet tersebut yang diarahkan terhadap proses untuk menampilkan keterampilannya. Jika fokus dan konsentrasi berpusat pada orsinilitas sudut pandang tentang orang dan peristiwa, maka perlu lakukan adalah menjalni situasi yang materinya antara lain : jangan larut, jangan lari, jangan takut, atau menempuh proses pembelajran diri melalui perubahan situasi.

Yuanita Nasution (1996:132) mengatakan bahwa “Dalam olahraga konsentarsi sangat penting peranannya, jika konsentasi atlet terganggu pada saat melakukan gerakan olahraga, apabila dalam pertandingan, maka dapat timbul berbagai masalah seperti berkurangnya akurasi gerakan, tidak dapat menerapkan strategi karena tidak mengetahui harus melakukan apa sehingga sudah pasti kepercayaan dirinya menjadi hilang atau berkurang.” Untuk menghindari keadaan tersebut perlu dilakukan latihan konsentrasi.

 

c.   Latihan Visualisasi

Visualisasi disebut juga imajeri adalah teknik latihan mental yang melibatkan semua penginderaan.Meliputi pikiran, perasaan, emosi, penglihatan dan pendengaran maupun hormone adrenalin yang menciptakan pengalaman dalam pikiran. Yukelson, 2004 (dalam gunarsa 2004:103) bahwa “ atlet-atlet dunia telah mengembangkan kemampuan atau keterampilan imajeri atau keterampilan mental yang dilatih setiap hari.” Bagian yang paling penting dari latihan Visualisasi adalah perasaan subjektif atau personal pada diri sendiri untuk menampilkan apa yang hendak dilakukan. Oleh karena itu, latihan visualisasi juga erat kaitannya dengan kepercayaan diri, pemusatan latihan, serta kondisi waspada dan terkendali.

Visualisasi adalah pengungkapan suatu konsep gagasan atau perasaan ke dalam bentuk nyata seperti gambar, tulisan atau gerakan.Visualisasi sering disebut imagery. Menurut Setiadarma (2000:188) mengatakan bahwa “Visualisasi adalah adalah merupakan bentuk imagery visual, sedangkan imagery bisa beriontasi pada visual seperti melihat gambar angan-angan, auditorial seperti mendengar suara atau melibatkan beberapa aspek penginderaan.”

Visualisasi meliputi penglihatan dan perasaan, jadi seseorang menvesualisasikan bergerak, mungkin seseorang dapat melihat, mendengarkan dan merasakan hal tersebut. Dalam proses visualisasi, sesuatu akan terjadi pada diri atlet, yaitu akan terbuai (terbawa) dalam keadaan tertentu, sesuai apa yang dibayangkan dalam layar atau mental seseorang. Dalam melakukan latihan ini sebaiknya atlet melakukan dengan mata tertutup (tidak selalu demikian), sehingga dapat menghindarkan gangguan-gangguan yang dapat mengacaukan pikiran.

Menurut Orlick, 1980 (dalam Satiadarma, 2000:173) mengemukakan bahwa “ Mental Imagery adalah simulasi, tetapi simulasi yang terjadi dalam otak, semua orang dapat melakukan hal ini, tetapi jelas tidak dengan cara yang sistematis, sehingga hasilnya juga tidak memuaskan,” mental Imagery dapat meningkatkan kemampuan individu, dalam menghadapi berbagai permasalahan.

Dari penjelasan di atas dikemukakan bahwa perkembangan latihan mental ketiga faktor diatas sangat penting, sebab betapa sempurna pun perkembangan  fisik, teknik dan taktik atlet, apabila mentalnya tidak turut berkembang, prestasi tinggi  tidak mungkin akan dapat tercapai.

 

4. Kerangka Berpikir

            Kerangka berpikir merupakan acuan dari kerangka teoritis yang tertuang pada tinjauan pustaka. Olehnya itu perlu suatu pola pikir yang dituangkan dalam sebuah bentuk kerangka skema, sebagai berikut:


 

 

 

 

 

1.    Latihan Relaksasi

2.    Latihan Konsentrasi

3.    Latihan Visualisasi

Atlet Sepakbola Sepak Bola Universitas Majalengka

   Mental

         Puncak Penampilan Atlet

Psikologi Olahraga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1. Skema kerangka berpikir

 


Berdasarkan skema yang dibuat, maka dapat dijelaskan bahwa puncak penampilan atlet sepak bola dapat diperoleh dengan adanya unsur psikologis.

 

METODE PENELITIAN

1.   Desain/Rancangan Penelitian

Dalam suatu penelitian, biasanya diperlukan suatu desain penelitian. Hal ini penting, karena merupakan landasan atau kerangka dasar yang dijadikan pijakan sekaligus acuan untuk melaksanakan penelitian yang sesungguhnya.

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (the action research), yang dalam lingkup persekolahan lazim disebut penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan merupakan suatu penelitian yang berbentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya, serta memperbaiki kondisi dimana praktik-praktik pembelajaran atau pelatihan tersebut dilakukan. Desain penelitian ini dapat digambarkan pada tabel berikut ini:       


 

Tabel 1. Desain Penelitian

Untuk Peningkatan Mental

Sasaran

1.      Latihan Relaksasi 

2.      Latihan Konsentrasi                                            

3.      Latihan Visualisasi

 

Atlet Sepak Bola Universitas Majalengka

 


Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini arahnya adalah untuk meningkatkan mental atlet sepak bola Universitas Majalengka dengan melalui metode latihan relaksasi, konsentrasi, dan visualisasi pada atlet sepak bola Universitas Majalengka.

 

5.   Tempat dan Waktu

Lokasi penelitian akan dilakukan di Universitas  Majalengka Provinsi Jawa Barat. Adapun waktu penelitian berlangsung selama empat bulan. Penelitian tindakan ini direncanakan dilaksanakan melalui tiga siklus untuk melihat peningkatan mental atlet sepak bola Universitas Majalengka melalui latihan relaksasi, latihan konsentrasi dan latihan visualisasi. Dengan perincian enam kali pertemuan untuk siklus 1, 3 kali pertemuan untuk siklus 2 dan 3 kali pertemuan untuk siklus 3.

 

6.   Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah atlet sepak bola Universitas Majalengka. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:


 

Tabel 2. Subjek Penelitian

Subjek

Jumlah