Unma » Home » Artikel » PENGARUH KOMPETENSI DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP KINERJA GURU PENDIDIKAN JASMANI

Selasa, 09 September 2015 - 13:27:31 WIB
PENGARUH KOMPETENSI DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP KINERJA GURU PENDIDIKAN JASMANI
Oleh : fkip
Dibaca: 1880 kali

PENGARUH KOMPETENSI DAN MOTIVASI BERPRESTASI

TERHADAP KINERJA GURU PENDIDIKAN JASMANI SMP NEGERI

SE-KABUPATEN MAJALENGKA

 

Indrayogi

 

 

ABSTRAK

 

Kompetensi guru adalah seperangkat kemampuan yang harus dimiliki guru searah dengan kebutuhan pendidikan di sekolah (kurikulum), tuntutan masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Kompetensi atau kemampuan yang dimiliki oleh guru penjas sangatlah penting. Sebagai tenaga profesional kependidikan, guru penjas harus memiliki motivasi untuk berprestasi.

Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan yang dilakukan penulis di beberapa sekolah menengah pertama di Kabupaten Majalengka kinerja guru Penjas masih belum optimal, hal ini bisa diduga bahwa faktor individu dan kompetensi guru penjas masih rendah.

Penulis merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Apakah kompetensi memberi pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru penjas di SMP Negeri se-Kabupaten Majalengka?,  2. Apakah motivasi berprestasi memberi pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru penjas di SMP Negeri se-Kabupaten Majalengka?, 3. Apakah kompetensi dan motivasi berprestasi memberi pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru penjas di SMP Negeri se-Kabupaten Majalengka?.

Populasi penelitian adalah seluruh guru Penjas SMP se-Kabupaten Majalengka dan untuk sampelnya adalah Guru Penjas SMP Negeri dan Kepala Sekolah se-Kabupaten Majalengka.

Hasil pengujian hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:

Pengaruh antar variabel

Koefisien (r)

Koefisien Determinan (sumbangan KD=r² x 100%)

Koefisien variabel lain (sisa)

X1 terhadap Y

0,964

92,92%

-

X2 terhadap Y

0,988

97,76%

-

X1 dan X2 terhadap Y

0,989

97,81%

2,19%

Dengan demikian, dapat diungkapkan bahwa: 1. Kompetensi secara siginifikan berpengaruh terhadap kinerja guru penjas. 2. Motif Berprestasi secara siginifikan berpengaruh terhadap kinerja guru penjas. 3. Kompetensi dan motif berprestasi secara siginifikan berpengaruh terhadap kinerja guru penjas .

 

KataKunci: Motivasi berprestasi, kompetensi, kinerja guru

 


PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pendidikan dimasa era globalisasi sekarang ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, memiliki kemampuan dalam keilmuan dan keimanan. Harapan tersebut sebagaimana terdapat dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab I pasal 3 menyatakan bahwa: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa,  bertujuan untuk berkembangnya potensi  peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab. (Depdiknas, 2005).

Berbagai fakta dan kendala masih ditemui di lapangan termasuk salah satunya kompetensi dan motivasi berprestasi guru penjas. Perbedaan kompetensi dan motivasi berprestasi guru penjas diduga menjadi penghambat bagi kemajuan pendidikan dan termasuk di Kabupaten Majalengka. Hal ini seperti yang penulis ketahui melalui observasi ke sekolah menengah pertama yang berada di beberapa wilayah Kabupaten Majalengka, hasil proses pembelajaran baik itu prestasi akademik maupun non akademik di bidang olahraga khususnya belum maksimal. Untuk data pendidikan guru penjas SMP Negeri di Kabupaten Majalengka dapat dilihat pada tabel 1.1 berikut.


 

Tabel 1.1

Data Pendidikan Guru Penjas SMP Negeri di Kabupaten Majalengka

Lulusan SMA

5

Orang

Lulusan SGO

19

Orang

S1 Penjas/OR

72

Orang

S1 Non Penjas

8

Orang

S2 Penjas/OR

10

Orang

S2 Non Penjas

5

Orang

S3 Penjas/OR

1

Orang

JUMLAH

120

Orang

                                   Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Majalengka 2013

 


Dari data pendidikan guru tersebut, dapat dilihat bahwa pendidikan mempunyai peranan sangat penting dalam menunjang proses kegiatan belajar mengajar, khususnya penjas. Keharusan setiap guru memiliki kompetensi ditunjang dengan pendidikan yang sesuai dengan profesinya yaitu sebagai guru penjas. Di Kabupaten Majalengka, dengan kondisi pendidikan guru seperti terlihat pada tabel 1.1 ternyata masih ada guru yang belum sesuai dengan kompetensi di bidang penjas, sehingga akan mempengaruhi kinerja dari guru penjas itu sendiri.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, kompetensi atau kemampuan yang dimiliki oleh guru penjas sangatlah penting. Darmodihardjo dalam Mulyasa (2011:23) menyatakan bahwa “Kompetensi guru adalah seperangkat kemampuan yang harus dimiliki guru searah dengan kebutuhan pendidikan di sekolah (kurikulum), tuntutan masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.” Perbedaan kompetensi guru tersebut akan memberikan pengaruh terhadap kinerja guru dalam peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan yang diharapkan.

Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan yang dilakukan penulis di beberapa sekolah menengah pertama di Kabupaten Majalengka kinerja guru Penjas masih belum optimal, hal ini bisa diduga bahwa faktor individu dan kompetensi guru penjas masih rendah. Keadaan guru penjas di beberapa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Majalengka menunjukan perilaku sebagai berikut: (1) tidak membuat persiapan untuk mengajar; (2) belum menunjukan sikap disiplin; (3) kurang menguasai bahan ajar. Di samping itu, prestasi guru penjas diduga bahwa guru penjas: (1) kurang termotivasi pada dirinya untuk memberikan dan menerima kritik/saran; (2) kurang berkomunikasi dengan penuh keakraban sesama guru; (3) jarang berdiskusi dengan sesama guru; (4) kurang memberikan dukungan terhadap sesama guru; (5) kurang merasakan bahwa pekerjaan sebagai guru adalah milik bersama; (6) kurang mengendalikan suasana yang kondusif. Dan dari segi kinerjanya diduga bahwa guru penjas: (1) belum dapat menyelesaikan tugas dengan cepat dan tepat; (2) kurang bekerja secara kreatif dan inovatif; (3) masih menunggu instruksi atasan; (4) memberikan layanan yang kurang memuaskan kepada siswa. Akibatnya pengaruh antara kompetensi dan motivasi berprestasi terhadap kinerja guru penjas makin rendah. Kalau dibiarkan maka dunia pendidikan khususnya penjas akan menurun dan berdampak buruk bagi hidup orang banyak.

 

Identifikasi dan Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, penulis mengidentifkasi pada 4 permasalahan mendasar yaitu: (1) Antara guru penjas yang satu dengan lainnya memiliki perbedaan kompetensi sehingga terjadi perbedaan perolehan prestasi belajar siswa. (2) Adanya perbedaan motivasi berprestasi guru penjas yang satu dengan lainnya sehingga terjadi perbedaan kinerja guru Penjas untuk meningkatkan mutu pendidikan. (3) Belum semua sekolah memiliki sarana-prasarana belajar yang memadai, sehingga menghambat peningkatan mutu pendidikan. (4) Kinerja guru penjas yang belum optimal sehingga menghambat peningkatan mutu pendidikan.

Dari hasil identifikasi tersebut, hal yang paling penting diperhatikan adalah masalah kompetensi, dan motivasi berprestasi guru penjas dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Oleh karena itu, penulis merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1.      Apakah kompetensi memberi pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru penjas di SMP Negeri se-Kabupaten Majalengka?

2.      Apakah motivasi berprestasi memberi pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru penjas di SMP Negeri se-Kabupaten Majalengka?

3.      Apakah kompetensi dan motivasi berprestasi memberi pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru penjas di SMP Negeri se-Kabupaten Majalengka?

 

Tujuan Penelitian

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang pengaruh kompetensi dan motivasi berprestasi terhadap kinerja guru penjas di SMP Negeri se-Kabupaten Majalengka. Adapun secara khusus tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.        Untuk mengetahui pengaruh kompetensi terhadap kinerja guru penjas di SMP Negeri se-Kabupaten Majalengka.

2.        Untuk mengetahui pengaruh motivasi berprestasi terhadap kinerja guru penjas di SMP Negeri se-Kabupaten Majalengka.

3.        Untuk mengetahui pengaruh dari kompetensi dan motivasi berprestasi kerja guru penjas terhadap kinerja guru penjas di SMP Negeri se-Kabupaten Majalengka.

 

Manfaat Penelitian

1.   Manfaat Teoretis

Memberikan sumbangan untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang kinerja guru dengan memperhatikan kompetensi guru, motivasi berprestasi guru penjas di jenjang pendidikan SMP secara individual maupun secara bersama-sama. Uji kompetensi guru, baik secara teoretis maupun secara praktis memiliki manfaat yang sangat penting, terutama dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan kualitas guru. Selain itu, hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan studi lanjutan yang relevan dan bahan kajian ke arah pengembangan konsep-konsep pengembangan guru yang mendekti pertimbangan-pertimbangan kontekstual dan konseptual, serta kultur yang berkembang pada dunia pendidikan dewasa ini.

 

2.   Manfaat Praktis

Kemudian selain manfaat secara teoretis, juga manfaat penelitian secara praktis yaitu bagi lembaga yang terkait serta peneliti selanjutnya, termasuk untuk pribadi peneliti, hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

1)   Memberikan masukan pada sekolah-sekolah menengah pertama di Kabupaten Majalengka guna meningkatkan prestasi belajar siswa ditinjau dari kompetensi dan motivasi berprestasi yang dimiliki oleh guru penjas.

2)   Sebagai landasan bagi penelitian lebih lanjut yang ada hubungannya dengan masalah kompetensi dan motivasi berprestasi guru penjas.

3)   Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai temuan awal untuk melakukan penelitian lanjut tentang pengaruh kompetensi dan motivasi berprestasi terhadap kinerja guru penjas di institusi pendidikan lainnya.

 

KAJIAN TEORETIS

1.  Kerangka Teori

a.  Kinerja Guru

          Kinerja berasal dari kata “Performance” dan sering diartikan dengan unjuk kerja atau perilaku kerja dan hasil kerja. Kinerja adalah suatu bentuk hasil kerja atau hasil usaha berupa tampilan fisik, maupun gagasan. Kinerja sering juga dihubungkan dengan kompetensi pada diri pelakunya. Untuk itu, kinerja guru adalah kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas yang dimiliki guru dalam menyelesaikan suatu pekerjaannya (Depdiknas, 2005).

Brown dalam Sardiman (2007: 142) menjelaskan tugas dan peranan guru, antara lain: menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan belajar siswa.

Sedangkan pembelajaran merupakan wujud dari kinerja guru, maka segala kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru harus menyatu, menjiwai, dan menghayati tugas-tugas yang relevan dengan tingkat kebutuhan, minat, bakat, dan tingkat kemampuan peserta didik serta kemampuan guru dalam mengorganisasi materi pembelajaran dengan penggunan ragam teknologi pembelajaran yang memadai. Pengertian pembelajaran menurut UUSPN tahun 2003 adalah suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dalam proses pembelajaran dapat dinyatakan prestasi yang dicapai oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya selama periode waktu tertentu yang diukur berdasarkan tiga indikator yaitu: penguasaan bahan ajar, kemampuan mengelola pembelajaran dan komitmen menjalankan tugas.

 

b.  Kemampuan Dasar Guru

Sidi (2001: 39) menjelaskan bahwa guru yang professional tidak hanya tampil sebagai pengajar (teacher) saja, melainkan juga sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor), dan manajer belajar (learning manajer).

Gulo dalam Mulyasa (2011: 137) menjelaskan bahwa ada sepuluh kemampuan dasar bagi guru yang profesional, yaitu: 1) menguasai bahan, 2) mengelola program belajar mengajar, 3) mengelola kelas, 4) menggunakan media sumber belajar, 5) menguasai landasan pendidikan, 6) mengelola interaksi belajar mengajar, 7) menilai prestasi siswa untuk kependidikan pengajaran, 8) mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, 9) mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, dan 10) memahami dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

Kemudian menurut Depdiknas (2005: 5) kompetensi dasar guru profesional meliputi tiga komponen, yaitu:

1)    Komponen pengelolaan pembelajaran terdiri atas:

a.    Penyusunan rencana pembelajaran.

b.    Pelaksanaan interaksi belajar mengajar.

c.    Penilaian prestasi belajar peserta didik.

d.    Pelaksanaan tindaklanjut hasil prestasi belajar peserta didik.

2)    Komponen pengembangan potensi diri, terdiri atas:

a.    Pengembangan diri

b.    Pengembangan profesi

3)    Komponen penguasaan akademik, terdiri atas: