Implementasi Big Data di Lembaga Pemerintah

Eva Fauziah Ahmad, SE.,M.Ak

Istilah Big Data mulai muncul setelah Tahun 2005 diperkenalkan oleh O’Reilly Media. Namun sebenarnya penggunaan data dan kebutuhan untuk memahami data tersebut sebenarnya sudah ada sejak jaman dulu. Big Data mengacu pada 3V: volume, variety, velocity, dan ada yang menambahkan unsur V lainnya seperti veracity dan value. Volume (kapasitas data) berkaitan dengan ukuran media penyimpanan data yang sangat besar atau mungkin tak terbatas hingga satuan petabytes atau zettabytes; variety (keragaman data) terkait tipe atau jenis data yang dapat diolah mulai dari data terstruktur hingga data tidak terstruktur; sedangkan velocity (kecepatan) terkait dengan kecepatan memroses data yang dihasilkan dari berbagai sumber, mulai dari data batch hingga real time, sementara karakteristik veracity (kebenaran) dan value (nilai) terkait dengan ketidakpastian data dan nilai manfaat dari informasi yang dihasilkan.

Data memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan strategis. Oleh karenanya, pihak yang mampu mengolah dan memanfaatkan data-data yang tersedia dalam volume besar, keragaman variatif, kompleksitas tinggi dan kecepatan penambahan data yang tinggi, dapat mengambil keuntungan yang besar. Namun sayangnya, penerapan Big Data analitik masih belum begitu populer di Indonesia. Sejauh ini tiga bidang usaha pengguna utama Big Data di Indonesia yaitu perusahaan telekomunikasi, perbankan, dan produsen barang-barang konsumsi ringan dan murah seperti minuman dan makanan kemasan (consumer goods).

Mengacu pada besarnya manfaat yang dapat ditawarkan oleh tren teknologi Big Data, khususnya di sektor publik, menarik untuk diteliti sejauh mana teknologi Big Data sudah dimanfaatkan di beberapa lembaga pemerintahan di Indonesia, dan tantangan apa saja yang muncul dalam penerapannya. Penerapan teknologi Big Data pada suatu lembaga dapat dilihat dari fungsifungsi yang sudah tersedia pada IT infrastrukturnya, sehingga dapat menjalankan kerja yang berhubungan dengan aplikasi mobile, social, dan Big Data-Analytic.

Big Data dalam konteks audit menjadi penting untuk memahami perbedaan antara data elektronik yang akan  digunakan oleh auditor  saat ini menggunakan BDA dengan data yang digunakan secara tradisional untuk mendapatkan opini audit. Big data juga mendorong sifat kebutuhan data yang sebelumnya hanya berupa data finansial menjadi juga data non finansial (Non Financial Data), dari data terstruktur menjadi data yang tidak terstruktur, baik dari dalam organisasi dan luar organisasi. Kebutuhan ini akan meluas melampaui kemampuan teknis dan zona nyaman yang dimiliki auditor selama ini.

Team Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *